Aku anak sulung dari tiga bersaudara, mama berdarah Sunda sedangkan papa berdarah Sulawesi tepatnya Makassar. Adikku yang paling kecil baru berumur 2 tahun, sedangkan adikku yang kedua masih SD ketika kejadian itu terjadi. Aku masih duduk di bangku SLTP di salah satu sekolah favorit di kotaku saat itu. Sore itu, saat aku baru bangun tidur sayup-sayup ku dengar mama menangis tersedu-sedu setelah menerima telpon. Ternyata telpon itu memberikan kabar duka, nenekku, mama dari mamaku telah dipanggil oleh-Nya sore itu. Sejenak aku termenung, terdiam dengan pandangan yang kosong. Benarkah itu?? Terakhir kali bertemu dengannya dia nampak sehat, waktu itu aku masih SD dan nenekku saat itu berkunjung untuk mendampingi mama yang akan melahirkan.
Sedih, aku kehilangan dia sore itu dan kali ini untuk selamanya. Nenekku sakit kanker payudara, penyakit ganas itu baru kami ketahui setelah ia mengerogoti tubuh nenekku tanpa belas kasihan sedikit pun. Andai saja ia mau di operasi saat itu, mungkin saat ini dia masih ada dan dapat melihatku memakai baju toga. Mungkin juga ia masih dapat melihatku mengenakan kebaya putih saat ijab qabul dan mungkin juga ia dapat melihat cicit pertamanya dariku. Ya Allah! Sungguh aku tidak percaya dan sampai detik ini pun saat usiaku beranjak 23 tahun aku masih belum percaya itu. Aku selalu dan selalu merasa kehilangan dia, aku merindukannya, sangat merindukannya.
Sewaktu aku kecil, setiap kali ia menelponku ia selalu mengingatkanku untuk banyak makan. Terutama makan banyak sayuran dan buah-buahan, dia tahu kalau aku sangat anti terhadap sayuran, sampai detik ini pun seperti itu. Saat ia menghembuskan nafas terakhirnya aku pun tak berada disampingnya, tak melihat jasadnya secara langsung. Kenapa ya Allah?? Andai saat itu orangtuaku sudah semapan sekarang, mungkin nenekku bisa diobati semaksimal mungkin, atau setidaknya aku dapat mengantarkan dia ke pembaringan terakhirnya.
Dia adalah wanita yang sangat aku kagumi, sangat aku sayangi selain mama tentunya. Wanita yang penuh semangat, gigih dan pekerja keras. Dia adalah wanita yang amat sangat baik, sayang keluarga dan juga pandai memasak. Aku sangat suka dengan masakan nenekku yang entah kapan terakhir kali aku makan masakannya, tapi aku masih ingat bau masakan yang selalu dia masak. Sayur asam, tempe goreng, ikan mas goreng dan sambal terasi kesukaanku. Masakan sunda sederhana tapi dengan cita rasa kebersamaan membuatnya jadi makan mewah yang tak tergantikan.
Dua tahun pertama aku masih merasa tak percaya akan kepergiannya, wanita yang memberi banyak inspirasi dalam hidupku. Aku harus selalu dapat berdiri sendiri, mandiri dan tegar dalam menghadapi berbagai cobaan hidup yang tidak sekali dua kali datang menerjang. Jujur, hingga detik ini setiap aku melihat fotonya saat aku lagi sedih atau lagi sendiri, aku meneteskan airmata yang tidak sedikit. Aku rindu kehadirannya, aku rindu pelukan hangat dan senyum indahnya. Setiap kali aku mengingat kenangan akan dirinya, airmataku jatuh tak terbendung. Aku ingin bertemu dengannya lagi, ya Allah. Meski hanya dalam mimpi, aku ingin memeluknya erat dan mengatakan kalau aku sangat menyayangi dan merindukannya.
Semenjak kepergiannya itu, semua terasa berbeda. Rumah ini terasa pengap dan tidak sesejuk dulu lagi. Tak ada lagi canda riang, obrolan santai dan hangat ala nenekku. Yang ada hanyalah sunyi senyap dan perbincangan yang kadang membuat boring. Aku ingin memutar waktu, if I could! Aku ingin mencurahkan isi hatiku padanya, mencurahkan apa yang aku rasakan saat ini. Aku tau jika saat ini dia ada disini aku pasti akan merasa nyaman, merasa tenang. Begitu banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya, begitu banyak perasaan yang ingin aku curahkan dengannya. Aku ingin dia tahu bahwa aku akhirnya dapat membuatnya merasa bangga memiliki cucu sepertiku. Rasa kangen itu terlalu dalam hingga aku sendiri nggak tahu bagaimana harus melukiskannya.
Dari cerita yang aku dengar, saat-saat nenekku sakit sangatlah pilu. Entah jika aku ada pa aku sanggup melihat ia tersiksa seperti itu. Lubang di dadanya sudah sebesar kepalan tangan orang dewasa yang tiap saat mengeluarkan darah dan nanah. Aku ingin sekali mengurusnya saat itu, tapi aku berada jauh di pulau seberang. Aku ingin mengusap airmata dipipnya, mengobati lukanya dan mengatakan padanya bahwa ia adalah wanita terhebat yang pernah aku miliki. Wanita yang gigih bertahan dan berjuang hidup melawan penyakit yang begitu ganas. Mungkin Allah terlalu sayang ma nenekku, hingga ia pun tak tega membiarkan nenekku tersiksa telalu lama seperti itu.
Ya Allah, aku ingin Engkau sampaikan padanya kalau aku sangat mencintainya, sangat merindukannya. Aku sangat ingin dia hadir dalam setiap momen-momen bahagiaku yang tak sempat dia hadiri. Sesalku hanyalah mengapa saat ia masih ada aku belum bisa memberikan sebuah kebanggaan yang berarti untuknya. Tapi setelah ia tiada, aku berharap di alam sana ia melihatku memberikan kebanggaan kepada keluarga dan orangtuaku dengan segudang prestasiku. Yes, you’re my gorgeous lady I’ve ever had and I really love you. Miss you always, grandma!



