Her Sky

If my voice could reach back through the past I’d whisper in your ear.. Oh darling, I wish you were here. (Vanilla Twilight-Owl City)

Humm, akhirnya aku mulai berfikir jika saja setiap inspirasi yang selalu hadir sesaat sebelum aku tertidur aku tuangkan dalam rangkaian kata2 ini dari dulu mungkin akan banyak cerita yang hadir mengisi blog ini. Hanya saja, entah kenapa sesaat setelah aku membaca sebuah kisah di salah satu blog sahabatku, aku jadi ingin menuangkan beberapa kisah yang akhir2 ini membuat aku jadi agak melankolis.

Dia sahabat yang sangat dekat buatku, sahabat yang slalu ada saat aku senang juga saat aku sedih. Ini adalah kisahnya, bukan kisahku (yang mungkin tlalu cengeng bwt aku angkat). Gadis pintar, sabar dan sederhana walau sebenarnya bisa dibilang dia adalah anak dari keluarga yang cukup berada. Tapi semua itu tidak terlihat dalam kesehariannya, walau kadang dia memang memakai pakaian ataupun barang branded. Dia anak yang menurut aku cerewet dan bawel, walau awal pertama kenal aku mengira kalau dia anak yang pendiam dan jutek. Ternyata aku salah! She’s a nice person with good personality.

Kisahnya dimulai di penghujung tahun 2004, saat dia putus dengan seorang cowok karena orangtuanya tidak merestui hubungan mereka, padahal mereka sudah pacaran hampir 2 tahun. Singkat cerita, 5 bulan setelah itu dia berkenalan dengan seorang cowok, tetangganya di Jakarta. Dalam waktu 2 minggu mereka jadian, entah karena mereka memang cocok atau karena pelarian aja aku nggak ngerti. Tapi yang aku tau, saat dia menceritakan hal ini dia sepertinya masih amat sangat mengharapkan cowok itu kembali. Coz ternyata hubungan mereka saat itu hanya dapat bertahan 6 bulan aja. Tapi 6 bulan itu justru menurutku mengubahnya menjadi seorang gadis yang berbeda 180 derajat sebelum dia putus dengan tetangga Jakarta-nya itu.

Setelah putus dengan Mr.Right (sebutanku untuk ex sahabatku), dia jadi uring2an padahal sewaktu SMA dulu walaupun dia agak melankolis tapi dia cewek yang tegas. Entah kenapa sejak kejadian itu dia jadi jauh berbeda, lebih menyukai kesendirian. Tapi aku tetap bangga dengannya karena meskipun dia didera berbagai macam permasalahan dari berbagai sudut, dia tetap dapat menghandle itu semua dengan baik. Dia sanggup menempatkan semua tepat pada tempatnya, yang mungkin jika aku jadi dia aku tidak akan sanggup sejauh itu. Aku rasa dia mulai jenuh dengan bayang2 Mr.Right yang selalu hadir disetiap malamnya, sampai aku sendiri pernah mendengar isak tangisnya ditengah malam.

Rasa sesak yang dia rasakan bisa aku rasakan saat itu, sungguh! Dia nggak bisa nangis berlebihan seperti itu, coz aku pernah melihatnya hampir meregang nyawa karena nyaris kehabisan udara gara2 sesak. Cintanya kepada Mr.Right terlalu besar untuk waktu sesingkat itu. Tapi anehnya lagi, saat kuliah setiap 3 bulan sekali atau 6 bulan sekali dia slalu mengenalkan aku dengan beberapa cowok yang berbeda. Tentunya yang diakuinya sebagai pacarnya dan tentunya itu hanyalah pelarian baginya. Aku berharap dia dapat berubah dan menjadi gadis seperti yang dulu aku kenal lagi. Hampir 6 tahun berlalu, tapi dia masih saja belum bisa melupakan Mr.Right, selalu ada tempat khusus dihati dia untuknya. Setiap berlibur ke Jakarta dia selalu menyempatkan untuk bertemu dengan Mr.Right walau hanya setengah jam ngobrol, tapi begitu balik ke Bandung dia menjadi seorang gadis yang ceria dan penuh semangat hidup.

Sampai suatu hari dia mendengar Mr.Right mempunyai pacar lagi, dia jadi lebih penyendiri. Namun, prestasi di kampus nggak pernah merosot. Ditambah lagi, dia mengalami masalah keluarga yang menurutku membuatnya akan menjadi sangat tertekan. Tapi yang aku lihat, walaupun dia sangat sedih dengan semua itu, dia berusaha untuk tegar, berusaha untuk dewasa dalam menyikapi semuanya. Walau terkadang dia ragu akan itu, ya! She said that to me, “im afraid I couldn’t faced it!”. Tapi ternyata dia berhasil melewati itu, menjadi anak yang broken home nggak membuatnya jadi seorang gadis yang lose control. Dia tetap bisa berprestasi dan menjaga dirinya dengan baik, walau mantan pacarnya entah berapa puluh biji bertebaran diluar sana. Dear, I believe you did that coz u’re trying to find your other Mr.Right!

Sekarang senyum yang dulu sempat hilang dari bibir manis yang berbehel itu akhirnya datang lagi, saat dia bilang kalau Mr.Right akan datang ke Bandung menemuinya. Humm, ada apa yah kira2?? Mudah2n aja itu adalah hal yang baik. Tapi tiba-tiba dia datang ke kamarku sambil menangis sesenggukan tak henti2. Aku berusaha menenangkannya dan mengambilkan air putih untuknya. Namun tangisannya tak kunjung reda juga, aku takut dia drop dan aku malah melihat hal yang sama lagi seperti 6 tahun lalu untuk yang kedua kalinya terjadi padanya. Ya Allah, aku gak mau itu terjadi lagi padanya, aku saying padanya ya Allah! Dan ternyata, Mr.Right datang ke Bandung untuk mengantarkan undangan pertunangannya kepada sahabatku. Itu adalah hal yang tentunya membuat dia sangat terpukul, 6 tahun dalam rasa cinta yang dia pendam kini semua jadi serpihan debu yang nyari hilang tak berbekas.

Dia mulai tenang dan menceritakan kronologis kejadian malam itu, Mr.Right datang bersama calon tunangannya. Mereka makan malam bertiga sampai pada akhirnya Mr.Right menyerahkan selembar undangan berwarna putih gading dibalut dengan pita emas merah muda. Tangannya gemetaran saat itu, matanya begitu sembab. Dia sangat terpukul dengan kejadian itu, apa Mr.Right nggak berpikir kalau dia akan sesakit itu?Tapi sahabatku hanya berkata kalau Mr.Right melakukan itu karena dia nggak mau sahabatku tau dari orang lain. Sahabatku masuk ke kamarnya dengan wajah yang sangat sedih dan aku hanya berharap di dalam sana dia nggak menangis seperti tadi lagi. Aku juga berpesan untuk tidak mengunci kamarnya karena aku takut terjadi sesuatu terhadap dia.

Benar saja, aku mendengar isak tangis itu dari kamarnya tapi tak lama isak tangis itu berhenti. Syukurlah,pikirku! Akhirnya dia bisa berhenti menangis juga. 5 menit, 10 menit hingga setengah jam aku  tidak mendengar isak tangisnya. Penasaran, aku pun mengecek ke kamarnya. Masya Allah, dia tergeletak dilantai dengan obat asma yang nyaris teraih olehnya. Reaaaaa…… Hanya itu yang bisa aku ucapkan saat itu dan ambulans pun membawanya ke RS. Setengah jam, satu jam hingga dua jam pun berlalu. Dokter mengatakan kondisinya saat ini sedang kritis, dia sedang koma untuk waktu yang nggak dapat ditentukan.

Aku sudah menghubungi keluarganya juga tentunya Mr.Right yang saat itu tentunya masih berada di Bandung. Mr. Right datang bersama seorang gadis berparas manis dibalik jilbab pink susu, inikah gadis pilihannya? Fisik sahabatku mungkin jauh dari itu, tapi cintanya pada Mr.Right pasti lebih besar dari cinta gadis itu. Sahabatku adalah gadis pertama dalam hidup Mr.Right yang menjadi kekasihnya, sedangkan Mr.Right mungkin cowok terakhir dalam hidup sahabatku, Rea.

Sesaat melihat Rea diranjang dengan berbagai macam alat bantu disekujur tubuhnya membuat hatiku sakit. Mr.Right berusaha membujuk dokter agar ia dapat melihat sahabatku itu dengan lebih dekat. Dan akhirnya dokter pun mengizinkannya. Mr.Right menggenggam tangan Rea, tentunya dilihat calon tunangannya itu. Aku pun nggak kuasa menceritakan mengapa Rea, sahabatku tercinta bisa berada dalam keadaan koma seperti itu. Gadis itu menangis, entah karena ia sedih atau merasa bersalah atau apalah itu aku juga nggak ngerti dan nggak mau tau. Yang aku tau kehadirannya membuat sahabatku terbujur kaku diranjang ICU. Kembali ke Mr.Right dan Rea, genggaman tangan darinya member arti hidup dan semangat untuk berjuang dan bertahan. Sesaat aku lihat jemarinya bergerak, dokter!! Dia sadar,sahabatku akhirnya sadar. Dia tidak lama dalam keadaan koma, Alhamdulillah!

Sesaat setelah sadar, aku, Mr.Right dan calon tunangan Mr.Right mendampinginya. Hanya beberapa kalimat yang bisa ia ucapkan dengan jelas, sembari memberikan senyum indah dihiasi behel warna-warni di giginya. ‘Dulu, sekarang dan nanti aku akan slalu menunggu kamu, aku akan selalu mencintai kamu, kapan pun kamu datang pintu itu terbuka lebar untukmu karena kamu yang terakhir bagiku’. Kalimat itu diakhiri dengan iringan bunyi mesin alat bantu jantung yang menunjukkan garis lurus, Innalillahi wa innailaihi rajiun. Mr.Right memang menjadi pria terakhir dalam hidupnya dan aku pun kehilangan sahabat terbaik dalam hidupku. Sampai detik ini, aku paling takut untuk nangis sesenggukan coz aku slalu ingat kepadanya dan entah itu sugesti atau apa, saat aku menangis karena sakit hati atau memendam sesuatu aku merasa sesak nafas.

Sekarang dia tenang berada disana, menanti Mr.Right untuk bertemu kembali. Walau ternyata, sepengakuan Mr.Right, Rea masih selalu datang menemuinya dalam mimpi hanya untuk mengatakan betapa ia mencintainya dan nggak ingin Mr.Right merasa bersalah sedikit pun karena kepergiannya.

2 Komentar »

  1. ini sih cerita kaw banget. cewek berbehel, si cowok itu kan si f**m*. ya kan? ya kan?
    jangan mati dulu dunk… itu kan aku yg sakit asma. dasar kaw!

  2. amy Berkata:

    btw gmbar anime yg couple itu dpet drmanA?
    dari anime apa ya yg ce???


{ Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini} · { URI Lacak Balik }

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.